Dari ketinggian langit, di kegelapan malam, sosok tubuh jatuh dengan kecepatan tinggi.

"Gyaaa—!"Teriakan  Xie Lian menggema di udara. Dia merasa panik karena tertarik kebawah dengan sangat cepat dan energi spiritual di tubuhnya mendadak menghilang.

DUARRR!

Suara keras akibat tubuh tua Xie Lian menghantam tanah dengan keras. Dia beruntung karena tubuhnya memiliki kekuatan fisik yang cukup kuat dan qi spiritual yang tersisa melindunginya dari benturan keras.

"Sialan!"

Darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia mendongak, dan melihat Rira perlahan turun dari udara, berdiri anggun melayang di atas sebuah batu besar.

"Apakah kamu pikir aku akan membiarkan tikus busuk sepertimu bisa melarikan diri begitu saja? Aku sengaja membiarkanmu bersembunyi selama beberapa hari karena masih ada urusan," ujar Rira datar. Ekspresinya tiba-tiba berubah, "Tidak ada jalan keluar lagi untukmu, Tetua Xie Lian. Sebaiknya kamu serahkan sekarang juga kunci dimensi kepadaku. Mungkin aku akan membiarkan jasadmu tetap utuh."

Rira menatap Xie Lian yang sedang berusaha memulihkan energi spiritualnya.  Suara Rira terdengar lebih dingin dan dalam seolah berasal dari tempat yang sangat jauh, matanya terlihat bercahaya. Dia mengangkat tangannya. "Sekarang, kunci dimensi… berikan padaku."

"Lupakan," Xie Lian meludah darah. "Selama aku masih bernapas… tidak akan kuberikan." Dia segera meminum pil rahasia dari keluarganya, pil pemulihan tingkat langit . Dalam sekejap, energi qi dalam jumlah besar meledak ledak dari tubuhnya. Pil ini adalah salah satu senjata rahasia yang seharusnya di pergunakan dalam keadaan mendesak, dan kini dia menggunakannya sebelum nyawanya melayang.

"Kalau begitu," Rira tersenyum tipis. "Kita lanjutkan."

"Tunggu! Siapa kamu sebenarnya? Kita tidak pernah berurusan sebelumnya, dan aku tidak mengenalimu." Tatap Xie Lian yang ingin menggali informasi lebih banyak mengenai lawannya untuk mencari tahu kekuatan dan kelemahannya. Selama ini dia belum pernah mendengar adanya seorang wanita muda memiliki kekuatan unik dan sangat kuat seperti wanita didepannya.

"Bukankah sudah kukatakan siapa namaku. Pertanyaan lainnya kamu bisa mencari jawabannya setelah tubuhmu kuhancurkan," Rira bergerak cepat dengan pisau kecil ditangannya.

Xie Lian yang sudah bersiap dengan pedang ditangannya, segera bergerak membalas. Langit di atas mereka semakin menggelap saat pertempuran kembali pecah.

DUARR!

Ledakan akibat benturan dua energi qi spiritual terdengar hingga ratusan meter. Bebatuan dan tanah di sekitar beterbangan dan batu besar dibawah tempat Rira melayang sebelumnya retak.

Langit malam makin pekat, bintang-bintang seakan menghilang di balik awan kelam saat dua sosok perempuan berdiri berhadapan.

Tubuh Xie Lian kembali tegak, napasnya berat tapi stabil."Wanita ini tidak terlihat menggunakan qi spiritual, tetapi saat berbenturan, kekuatan spiritualnya meningkat drastis." Batin Xie Lian sambil memandang sosok Rira yang tersenyum sambil memperhatikan pisau kecilnya.

Aura qi merah kebiruan mulai mengepul dari tubuh Xie Lian, hasil dari pil pemulihan tingkat langit yang baru saja ditelannya. Di tangannya, pedang panjang berwarna perak berdenyut pelan, seolah hidup, menghisap energi dari sekitarnya.

Rira, dengan tatapan dingin dan tak berperasaan, mengangkat tangannya yang menggenggam pisau kecil melengkung berwarna hitam pekat. Pisau itu tampak berdenyut dengan aura gelap, seperti ada bisikan yang berdesir dari balik bayangannya.

"Sword Qi Blaster!" seru Xie Lian.

Dengan satu ayunan cepat, seberkas cahaya tajam berbentuk gelombang qi melesat dari pedangnya. Suara desingan menyayat udara, menghantam ke arah Rira seperti tebasan tak kasat mata. Rira mengangkat tangannya, dan dari kulitnya keluar semacam lapisan pelindung hitam seperti kabut kental. Serangan pertama menghantam kabut itu dan meledak. membuat serpihan batu beterbangan.

"Menarik," gumam Rira, nadanya berubah menyindir. "Tapi tidak berguna."

Rira mengangkat dua jarinya, di sela jarinya terdapat batu kristal kecil berwarna merah. Dengan kristal tersebut, dia membentuk segel cepat. Kabut hitam yang melindunginya tiba-tiba membentuk puluhan bayangan dirinya di sekeliling Xie Lian.

"Phantom Veil," bisiknya.

Xie Lian memutar tubuh, mencoba mengunci keberadaan Rira yang asli, tapi bayangan itu semua memancarkan aura yang identik. Salah satu bayangan menyerang dengan pisau, nyaris mengenai pundaknya.

"Permainan ilusi?" gumam Xie Lian. Matanya berkilat.

"Aku tidak punya waktu untuk ini." Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan seketika aura merah kebiruan memusat di sepanjang bilah pedang. Dia mengeluarkan salah satu jurus andalan sekte Api Langit.

"Void Cleaving Slash!"

Ayunannya bertenaga penuh, menebas langsung ke depan. Suara gemuruh terdengar seperti langit retak. Dari ujung pedangnya, semburan qi tajam berwarna merah keperakan melesat, membelah udara dan mengoyak semua bayangan sekaligus. Namun saat sosok-sosok itu menghilang, Xie Lian tampak menegang melihat penampilan Rira yang terasa berbeda. Bersumber dari balik pakaiannya, keluar cahaya terang.

Xie Lian bisa melihat sebuah gambar terbentuk di dada Rira, tubuhnya dikelilingi aura hitam bercampur petir ungu meluap. Xie Lian melihat seolah di belakang wanita tersebut terdapat mahluk tinggi besar menyeramkan. Tanah bergetar, udara di sekitar keduanya berubah menjadi berat dan mengancam.

Xie Lian menggertakkan gigi. Tangannya mempererat pegangan pada pedang. "Apa ini? Kamu...kamu bukan manusia..."

"Lumayan! Kamu bisa menghilangkan ilusiku dengan cepat, tetapi itu bukanlah jurus yang sesungguhnya."desisnya. Pisau di tangannya kini bersinar dengan cahaya ungu gelap. Aura hitam yang yang terpancar dari tubuh Rira berkumpul dengan cepat ke pisau kecilnya.

"Nikmati kekuatan yang diberikan oleh Nyonya! Sudah lama aku ingin mencobanya."

Tubuh Xie Lian bergetar, dia tidak tahu penyebabnya namun tubuhnya dapat merasakan bahaya yang sangat besar berasal dari wanita di hadapannya. Tanpa disadari, Xie Lian melangkah mundur.

Dengan santai, Rira mengayunkan pisaunya ke arah Xie Lian. Dia menggunakan seperempat kekuatan sihir yang diberikan Mira kepadanya, kekuatan yang dihisap dari para jiwa-jiwa para kultivator. Energi ungu gelap melesat dengan cepat kearah Xie Lian yang mendadak terdiam tidak bisa melangkah.

DUAR!

Xie Lian berusaha menangkis dengan mengerahkan qi spiritualnya, namun kekuatan yang menyerangnya terlalu kuat.

Debu dan puing beterbangan saat tubuh Tetua Xie Lian menghantam tanah dengan keras. Cahaya qi-nya yang bersinar kini berpendar lemah, darah keluar dari berbagai sisi tubuhnya, pakaiannya hancur di sebagian sisi. Namun dia belum menyerah, dia masih berusaha bangkit dengan sisa kekuatannya. 

Namun sebelum ia melancarkan serangan akhir, suara Kael terdengar dari kejauhan.

"Rira?!"

Rira menoleh. Di puncak bukit, Kael, Narendra, dan Arkha berdiri membatu menyaksikan apa yang terjadi. Mata Arkha membelalak, seolah tidak percaya.

"Itu dia... itu Rira," bisik Arkha, napasnya tercekat.

"Kenapa dia bisa bertarung dengan Grandmaster Langit?" Narendra menyipitkan mata.

Kael menunduk. "Itu bukan kekuatan biasa... darimana dia mendapatkannya."

"Tidak perlu memikirkannya sekarang. Kita harus membantunya." Arkha berlari cepat menuju kearah Rira, disusul Narendra dan Kael.

Sementara Rira kembali menatap Xie Lian yang bangkit berdiri, aura qi merah kebiruan semakin banyak keluar dari tubuhnya setelah dia meminum beberapa pil sekaligus. Xie Lian merasa frustasi dan tahu tubuhnya terluka parah, namun dia tidak akan membiarkan wanita didepannya menang begitu saja sehingga dia nekat meminum sekaligus pil tersebut.

"Huh, gangguan." Batin Rira saat suara langkah kaki menghentak tanah mendekatinya. Arkha sudah datang mendekat.

"Rira!" serunya. "Aku bantu!"

Kael terkejut. "Arkha, tunggu!"

Tapi Arkha dengan pedangnya yang sudah di aliri energi qi menebas ke arah Xie Lian yang berniat menyerang Rira. "Jangan sentuh dia!"

Xie Lian terkejut, dia tidak bisa bergerak. Tubuhnya tidak mampu menangkis serangan yang datang dari seseorang yang ranahnya jauh di bawahnya. 

"Tidakkkk...."

Sesuatu yang tidak diduga terjadi.  Tubuh Xie Lian yang terluka karena serangan dari Rira tidak mampu lagi menahan kekuatan pil yang keluar dari tubuhnya, sehingga serangan dari Arkha yang terlihat pelan tidak mampu di hindarinya dan luka serangan dari Arkha memicu kekuatan pil didalam tubuhnya hingga meledak. Tubuh Xie Lian berubah menjadi debu qi akibat kekuatannya sendiri.

Hening.

Rira berdiri tegak, menunduk, diam-diam tersenyum mengejek. Kael mendekat perlahan, menatapnya dalam-dalam.

"Rira... kau.... kau masih hidup."

Rira tersenyum tipis. "Tentu. Aku tidak mati, Kael."

